Dialog Seri 9: 4
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Musa dan kaumnya setelah Fir’aun dan kaumnya dibinasakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Setelah Allah SWT membinasakan Fir’aun dan kaumnya, Dia memerintahkan Nabi Musa untuk membawa kaumnya, Bani Israil, ke suatu tempat. Dalam perjalanan, kaum Nabi Musa meminta kepada Nabi Musa, yaitu sebagai berikut:
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Al A’raaf 138-140)
Permintaan Bani Israil (dalam firman-Nya di atas) itu membuat Nabi Musa sadar bahwa kaumnya tidak mengerti tentang Allah SWT dan iman kepada-Nya. Kaumnya tidak mengenal Tuhannya yang telah menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun yang mereka sendiri telah menyaksikannya termasuk ketika Dia mengazab Fir’aun dan kaumnya hingga tenggelam di laut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Al A’raaf 141)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk pergi ke suatu tempat?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT berjanji akan memberikan Taurat (ayat-ayat-Nya) kepada Nabi Musa, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (Al A’raaf 142)
Tilmidzi: “Apakah Taurat itu?”
Mudariszi: “Taurat adalah kitab dari Allah SWT yang berisi ayat-ayat-Nya atau wahyu-wahyu-Nya yang menjelaskan perkara-perkara yang tidak diketahui oleh umat Rasul (manusia) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Taurat tidak berbeda dengan ayat-ayat-Nya yang diberikan-Nya kepada Rasul-Rasul lain, contoh lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Al Qur’an, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An Najm 36-42)
(Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an); di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. (Al Bayyinah 2-3)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT turunkan Taurat kepada Nabi Musa?”
Mudariszi: “Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, Allah SWT lalu menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan kaumnya (umatnya) untuk memegang teguh agama-Nya yang dijelaskan dalam Taurat ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al A’raaf 114)
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(–Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya; tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raaf 145-147)
Tilmidzi: “Apakah Taurat itu diturunkan-Nya untuk manusia?”
Mudariszi: “Ya! Karena Taurat itu dijelaskan-Nya sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)
Taurat yang menjadi pelita, petunjuk dan rahmat bagi manusia seperti firman-Nya di atas itu lalu diuraikan lagi melalui firman-Nya ini:
Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Al An’aam 154)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al Anbiyaa’ 48-49)
Tilmidzi: “Tapi bukankah Taurat itu diberikan-Nya untuk Bani Israil?”
Mudariszi: “Taurat diberikan-Nya kepada Bani Israil karena Nabi Musa berasal dari Bani Israil, dan Taurat itu dijelaskan dalam bahasa Bani Israil agar Nabi Musa memahaminya sehingga memudahkan beliau menjelaskan Taurat kepada kaumnya sebagai orang-orang yang paling dekat dengan beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami tidak mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk. (Al Mu’minuun 49)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)
Allah SWT mewariskan Taurat (dalam firman-Nya di atas) itu kepada Bani Israil karena orang-orang yang paling dekat dengan Nabi Musa ketika beliau mengajarkan Taurat adalah saudara (sahabat) beliau dari Bani Israil. Tetapi Taurat yang diberikan-Nya kepada Bani Israil itu adalah untuk manusia, Allah SWT menghendaki Bani Israil menjelaskan Taurat dan agama-Nya kepada manusia selain Bani Israil.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Nabi Musa dan Bani Israil menyampaikan dan menjelaskan Taurat kepada orang-orang selain Bani Israil?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, di antara orang-orang yang mengikuti Nabi Musa itu adalah ahli sihir dari kaum Fir’aun. Di antara kaum Musa ada orang-orang yang memberi petunjuk kepada manusia dengan benar, yaitu petunjuk dari Taurat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (Asy Syu’araa’ 46-48)
Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Musa menyampaikan dan menjelaskan Taurat tersebut kepada umatnya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan perbuatan kaum Nabi Musa ketika Nabi Musa menerima Taurat daripada-Nya, yaitu sebagai berikut:
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al A’raaf 148)
Kaum Nabi Musa melakukan perbuatan seperti firman-Nya di atas karena mereka tidak memahami tentang Allah SWT dan iman kepada-Nya. Mu’jizat-mu’jizat-Nya yang disaksikan oleh mereka (Bani Israil) tidak membuat mereka beriman dan takut kepada-Nya. Mu’jizat-mu’jizat-Nya yang diketahui oleh mereka, bagi mereka hanyalah sekedar bantuan, yaitu membantu mereka dalam mengalahkan musuhnya (Fir’aun dan kaumnya). Karena itu Nabi Musa menjadi marah, terlebih lagi sebelumnya mereka juga telah meminta kepada Nabi Musa untuk dibuatkan patung tuhan dan beliau telah pula menjelaskannya kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” (Al A’raaf 150)
Meskipun demikian, Nabi Musa tetap menjelaskan kepada kaumnya tentang lembu yang dijadikannya sebagai tuhan, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu.” Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah 54)
Tapi di antara kaum Nabi Musa itu ada yang menolak penjelasan beliau, mereka hanya mau bertaubat setelah melihat Allah SWT. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah 55-56)
Perbuatan sebagian besar Bani Israil itu menunjukkan bahwa mereka terlalu mudah ditipu (dihasut) oleh syaitan, padahal Rasul-Nya (Nabi Musa) bersama mereka dan mereka menyaksikan apa yang Allah SWT telah berikan kepada Nabi Musa dan kepada mereka ketika mengalahkan Fir’aun. Terlihat terlalu mudah bagi syaitan (dengan hasutan jahatnya) membuat Bani Israil sampai tidak mau berfikir dengan benar kecuali berfikir menurut keinginan hawa nafsunya saja. Hanya sebagian kecil dari mereka yang menyesali perbuatannya tersebut dan mereka lalu bertaubat kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf 149)
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu, adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al A’raaf 152-153)
Nabi Musa kemudian memilih kaumnya yang bertaubat tersebut, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’raaf 154-156)
Tilmidzi: “Bagaimana perilaku Bani Israil setelah menerima Taurat?”
Mudariszi: “Pengaruh (hasutan) syaitan yang masuk ke hati sebagian besar Bani Israil menjadikan mereka tidak taat kepada Allah SWT, agama-Nya, Taurat, dan Nabi Musa. Mereka hanya mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya (Nabi Musa) atas perkara-perkara yang sesuai dengan keinginannya saja, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak mentaati.” Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).” (Al Baqarah 93)
Mereka tidak taat kepada perintah Allah dan perintah Nabi Musa (karena terhasut oleh syaitan hingga membuat mereka hanya menuruti hawa nafsunya) terlihat dari contoh perintah Allah kepada mereka sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi betina itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperolehnya sapi itu).” Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (Al Baqarah 67-71)
Mereka membunuh manusia (karena disuruh oleh hawa nafsunya), padahal mereka mengetahui perbuatan membunuh itu dilarang syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Taurat. Syaitan membuat hati mereka demikian keras untuk tidak mentaati Allah SWT, Taurat, Rasul-Nya (Nabi Musa), agama-Nya dan syariat agama-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggauta sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. Kemudian sesudah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah 72-74)
Karena syaitan telah membuat mereka selalu menuruti hawa nafsunya, mereka menjadi tidak pernah ragu-ragu dalam menolak perintah Allah dan perintah Nabi Musa yang tidak disukainya, contoh seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-Nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maa-idah 20-26)
Demikian pula mereka tidak ragu-ragu mengganti (merubah) kata-kata dalam perintah-Nya (merubah ayat-ayat-Nya) karena hanya menuruti keinginan hawa nafsunya, contoh seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya dimana saja kamu kehendaki.” Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (Al A’raaf 161-162)
Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas karena menuruti hawa nafsunya, mereka hanya melaksanakan perintah Allah yang sesuai dengan keinginan nafsunya.”
Tilmidzi: “Apakah Bani Israil itu berbuat demikian karena mereka menyukai kesenangan dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT telah memberikan Bani Israil makanan dan minuman yang baik, dan Dia menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.” Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri. (Al A’raaf 160)
Tapi karena menuruti hawa nafsunya, mereka tidak pernah puas dengan pemberian-Nya tersebut, sehingga mereka selalu meminta yang lebih baik dan lebih banyak dari itu dalam kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah. (Al Baqarah 61)
Keinginan hawa nafsunya terhadap kesenangan (kehidupan) dunia telah membuat mereka makin tidak mentaati perintah Allah dan perintah Nabi Musa, atau makin tidak mentaati syariat agama-Nya. Contoh, mereka melanggar peraturan hari Sabtu hanya karena memperoleh ikan-ikan yang dapat memberikan mereka keuntungan yang besar, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’raaf 163)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi. Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi orang-orang yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah 63-66)
Cintanya kepada kesenangan (kehidupan) dunia telah membuat mereka tidak ragu-ragu untuk menganiaya saudaranya sendiri. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Al Baqarah 84-85)
Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang Bani Israil yang menyukai kesenangan (kehidupan) dunia tersebut melalui firman-Nya ini:
Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Al Baqarah 86)
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk). (An Nisaa’ 44)
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka. (Al Baqarah 175)
Hanya sebagian kecil dari Bani Israil yang taat kepada Allah SWT, Taurat, Rasul-Nya atau taat mengikuti syariat agama-Nya. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya. Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al A’raaf 164-166)
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana Nabi Musa menghadapi kaumnya itu ketika menyampaikan dan menjelaskan Taurat kepada mereka?”
Mudariszi: “Nabi Musa tidak dapat berbuat apapun kecuali tetap menyampaikan dan menjelaskan Taurat kepada mereka dengan sabar. Kesabaran Nabi Musa terhadap kaumnya itu diketahui oleh Allah SWT, sehingga Dia lalu menghukum Bani Israil yang melampaui batas itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Ash Shaff 5)
Tilmidzi: “Apakah Bani Israil yang kafir itu dibinasakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Adanya orang-orang kafir dan orang-orang beriman di antara umat Nabi Musa, khususnya di antara Bani Israil, menjadikan mereka selalu berselisih. Bani Israil yang menyukai kesenangan (kehidupan) dunia telah membuat umat Nabi Musa berselisih dalam melaksanakan syariat agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Bani Israil yang kafir yang menyukai kehidupan dunia itu dapat membuat umat Nabi Musa yang lahir kemudian menjadi kafir. Tapi Allah SWT tidak membinasakan Bani Israil yang kafir tersebut seperti Dia membinasakan kaum-kaum kafir sebelumnya, karena adanya ketetapan Allah yang Dia telah tetapkan sebelumnya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. (Huud 110)
Dengan adanya ketetapan Allah seperti firman-Nya di atas, Fir’aun dan kaumnya yang kafir merupakan kaum terakhir yang Dia binasakan (musnahkan) dengan azab-Nya di muka bumi. Hal itu menunjukkan pula bahwa Allah SWT menghendaki agar orang-orang yang lahir kemudian beriman kepada-Nya dengan mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Karena itu Bani Israil yang beriman wajib menyampaikan dan menjelaskan Taurat dan agama-Nya kepada orang-orang yang lahir kemudian dan kepada orang-orang yang tidak mengikuti agama-Nya. Bani Israil menjadi kaum yang dilebihkan-Nya di antara kaum-kaum lain di masa itu, karena mereka dipilih-Nya untuk menyampaikan agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Al Jaatsiyah 16)
Meskipun demikian, Allah SWT masih mengutus Nabi-Nabi kepada kaum-kaum yang kafir yang tidak mengikuti agama-Nya di belahan bumi lainnya. Allah SWT banyak mengutus Nabi (Rasul) kepada kaum-kaum yang tidak mengikuti agama-Nya, tapi para Nabi (Rasul) tersebut tidak dijelaskan dalam kitab-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (Al Mu’min 78)
Wallahu a’lam.